Aquasprite Theme Demo

ENDGAM3: Blueprint for Global Enslavement

Marley And Me

New World Order' Emerging At G-20 Summit

Crank:High Voltage

Fall of the Republic

WATCHMEN - The Movie

Illuminati : They All Around Us

Bedtime Stories
Latest News

Macam-macam Tauhid

Posted by Unknown on Kamis, 08 Desember 2011 , under | komentar (0)



 
           Tauhid adalah mengesakan Allah dengan beribadah kepadaNya semata. Ibadah merupakan tujuan penciptaan alam semesta ini. Allah I berfirman,
 "Dan Aku (Allah) tidah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzaariyaat: 56) 

Maksudnya, agar manusia dan jin mengesakan Allah dalam beribadah dan mengkhususkan kepadaNya dalam berdo'a.
Tauhid berdasarkan Al-Qur'anul Karim ada tiga macam:
  1. TAUHID RUBUBIYAH

    Yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan dan Maha Pencipta. Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini. Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam.  Allah berfirman,"Dan sungguh, jika Kamu bertanya hepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka', niscaya mereka menjawab,'Allah'." (Az-Zukhruf: 87)

    Berbeda dengan orang-orang komunis, mereka mengingkari ke-beradaan Tuhan. Dengan demikian, mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah.
     
  2. TAUHID ULUHIYAH

    Yaitu mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyari'atkan. Seperti berdo'a, memohon pertolongan kepada Allah, thawaf, menyembelih binatang kurban, bernadzar dan berbagai ibadah lainnya.

    Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan ia pula yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh alihissalam hingga diutusnya Nabi Muhammad .

    Dalam banyak suratnya, Al-Qur'anul Karim sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo'a dan meminta hajat khusus kepada Allah semata.
    Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman,
     "Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

    Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdo'a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selainMu.
    Tauhid uluhiyah ini mencakup masalah berdo'a semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari Al-Qur'an, dan tunduk berhukum kepada syari'at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah,
    "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku." (Thaha: 14)
     
  3. TAUHID ASMA' WA SHIFAT

    Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur'anul Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah yang berasal dari penyifatan Allah atas DzatNya atau penyifatan Rasulullah .

    Beriman kepada sifat-sifat Allah tersebut harus secara benar, tanpa ta'wil (penafsiran), tahrif (penyimpangan), takyif (visualisasi, penggambaran), ta'thil (pembatalan, penafian), tamtsil (penyerupaan), tafwidh (penyerahan, seperti yang.banyak dipahami oleh manusia) .

    Misalnya tentang sifat al-istiwa ' (bersemayam di atas), an-nuzul (turun), al-yad (tangan), al-maji' (kedatangan) dan sifat-sifat lainnya, kita menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf. Al-istiwa' misalnya, menurut keterangan para tabi'in sebagaimana yang ada dalam Shahih Bukhari berarti al-'uluw wal irtifa' (tinggi dan berada di atas) sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah . Allah berfirman,
    "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syuura: 11)
    Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah secara benar adalah dengan tanpa hal-hal berikut ini:
    1. Tahrif (penyimpangan): Memalingkan dan menyimpangkan zhahir-nya (makna yang jelas tertangkap) ayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa (bersema-yam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (menguasai).
       
    2. Ta'thil (pembatalan, penafian): Mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit, sebagian ke-lompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat.
       
    3. Takyif (visualisasi, penggambaran): Menvisualisasikan sifat-sifat Allah. Misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas 'Arsy itu begini dan begini. Bersemayamnya Allah di atas 'Arsy tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah semata.
       
    4. Tamtsil (penyerupaan): Menyerupakan sifat-sifat Allah de-ngan sifat-sifat makhlukNya. Karena itu kita tidak boleh mengatakan, "Allah turun ke langit, sebagaimana turun kami ini". Hadits tentang nuzul-nya Allah (turunnya Allah) ada dalam riwayat Imam Muslim.
      Sebagian orang menisbatkan tasybih (penyerupaan) nuzul ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ini adalah bohong besar. Kami tidak menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang mena-fikan tamtsil dan tasybih.
       
    5. Tafwidh (penyerahan): Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif (hal, keadaan) tidak pada maknanya. Al-Istiwa' misalnya berarti al-'uluw (ketinggian), yang tak seorang pun mengetahui bagai-mana dan seberapa ketinggian tersebut kecuali hanya Allah.
       
    6. Tafwidh (penyerahan): Menurut Mufawwidhah (orang-orang yang menganut paham tafwidh) adalah dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang diterangkan oleh ulama salaf seperti Ummu Salamah x, Rabi'ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua se-pendapat bahwa, "Istiwa' (bersemayam di atas) itu jelas pengertian-nya, bagaimana cara/keadaannya itu tidak diketahui, iman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."

Urgensi kalimat Syahadat

Posted by jacka santosa on Minggu, 04 Desember 2011 , under | komentar (0)



Untuk saudaraku, Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat serta hidayahNya untuk kita semua selama kita masih berpegang teguh dalam tali Allah.

Untuk memperdalam pemahaman kita tentang arti pentingnya aqidah tauhid dalam kehidupan, alangkah baiknya kita mulai mengkaji, apa sih arti pentingnya serta apa manfaatnya dari syahadat ini.

Allah telah menciptakan alam semesta tidaklah tanpa tujuan dan tujuan utama yang harus kita sadari betul bahwa penciptaan ini semata-mata adalah agar kita beribadah kepadaNya kita sadar bahwa kita sebagai mahluk harus tunduk pada aturan-aturan khaliknya, dan bukankah Allah mengutus semua para rasul untuk menyeru kepada seluruh umat manusia untuk menegakkan tauhid ini.
Seperti dalam firmanNya yg artinya : "Tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku" (QS Surat Al Anbiya')

Tauhid adalah perwujudan dari syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah yang maknanya bahwa kita mengakui dengan yakin bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan beribadah dengan syariat yang telah dibawa dan diajarkan oleh Muhammad Rasulullah. Syahadat inilah yang memasukkan seseorang kepada Islam, tauhid juga yang membedakan antara orang yang beriman dan orang yang musyrik. Tauhid inilah hakikat dari agama Islam.

Ada 4 hal urgensi dalam bersyahadat ini yaitu:

1. Pintu Masuk kedalam Islam

Dengan mengucap 2 kalimat syahadat ini seseorang akan dianggap sebagai muslim, kalimat inilah sebagai pembeda antara muslim dengan non muslim dan sebenarnya inilah awal dari penyerahan diri secara total dari seseorang kepada Allah beserta ketentuanNya serta ketundukan atas syariat-syariat yang telah diajarkan Rasulullah.

2. Intisari dari Islam

Bahwa dari seluruh ajaran islam, sebetulnya akan bermuara pada 2 kalimat tauhid ini, semua gerak kehidupan umat muslim haruslah "Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah", Inilah kepasrahan total yang seharusnya dilakukan setiap muslim untuk tunduk dan patuh kepada Sang Khalik sebagai pemilik mahluk-mahluknya serta mengikuti semua perintahNya tanpa adanya penolakan ataupun pembangkangan.
Ingat Al-Qur'an yang kita yakini dalam Al Anbiyaa ayat : 25 diatas , menyatakan bahwa Allah telah berfirman : "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
Membaca ayat tersebut mungkinkah kita tidak mempercayainya ? Sehingga apabila kita 100% mempercayai seyogyanya dalam setiap detak jantung serta tarikan nafas kita harus selau ingat bahwa hanya Allah yang Maha Tunggal yang wajib kita sembah karena pasti Allah-lah yang mengatur mahluknya, yang telah memberi nafas kehidupan ini, memberi rizki serta memberi bermacam kenikmatan dalam hidup ini.
Oleh karenanya setelah menyadari semua itu marilah kita mencoba sedikit berfikir, lantas kehidupan seperti apa yang sesungguhnya benar dan bermanfaat bagi diri sendiri, bagi umat serta bagi alam ini, kalaulah kita mau berfikir jernih dalam ayat tersebut diterangkan bahwa pastilah semua rasul itu diberi wahyu untuk mengEsa-kan Allah beserta cara-caranya. Sedangkan kita yang mengaku umat Muhammad sudah seharusnyalah melihat bagaimana tata cara rasulullah beribadah dan bermuamalah, dan sebetulnya semuanya telah dicontohkan oleh utusan Allah yang terakhir yaitu Muhammad Rasulullah yang selalu berperilaku lembut, berbudi luhur, selalu berjalan dalam kebenaran serta rahmatan lil alamin, kalaulah tidak tersurat pastilah tersirat dalam tingkah lakunya, maka sudah sewajibnya kita yang mengaku umat islam berpegang teguh terhadap undang-undang yang telah diberlakukan pada kita semua sebagai konsekuensi pengakuan syahadat ini sehingga apabila dalam mengisi kehidupan di dunia ini ada seorang muslim mengingkari dari apa yang telah diikkrarkan maka akan sia-sialah hidup & ibadah kita serta ibadah-ibadah kita berikutnya.

3. Reformasi Diri

Sebagai kelanjutan konsekuensi kita setelah mengikrarkan diri dalam syahadat adalah bahwa kita harus merubah total perilaku yang tadinya belum islami untuk berhijrah menjalankan semua syariat-syariat islam telah ditetapkan tanpa memilih mana menguntungkan untuk diri sendiri atau memilih mana yang enak atau mana yang nggak enak. Saat kita mengucap syahadat, saat itu pula titik awal dari hidup kita memulai yang baru meninggalkan sesuatu yang buruk untuk berbuat yang baik. Niat yang benar-benar kuat untuk menuju kearah kebaikan tanpa menunggu-nunggu waktu yang tepat.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Telah jelas bagi kita bahwa harus ada itikad atau keinginan dari kita terlebih dulu untuk segera mereformasi atau mengubah diri kita sendiri disini kitalah yang harus aktif bukannya pasif menunggu perubahan yang Allah berikan.

Kalaupun kita bingung serta bimbang jalan seperti apa atau reformasi seperti apayang harus kita tempuh semuanya telah ada contohnya. Dan jalan yang dirintis serta ditempuh rasulullah adalah jalan terbaik yang telah diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur'an, tanpa beliau membantah dan menolaknya.

4. Hakikat dakwah Rasulullah

Selain hal-hal tersebut diatas yang harus kita ketahui bahwa kalimat dua syahadat merupakan dakwah sukses rasullullah saw selama 13 tahun masa kenabian beliau. Rasulullah telah mendidik para para sahabatnya tentang tauhid ini semenjak mereka kecil, sebagaimana perkataan beliau terhadap ibnu Abbas, "Apabila Engkau memohon maka mohonlah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah ." ( HR. Tirmidzi ).
Rasul juga mengajarkan kepada para sahabat agar memulai dakwahnya dengan tauhid, beliau bersabda kepada Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman : "Jadikanlah awal yang kamu seru adalah syahadat Laa ilaaha illallah, pada riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah" ( Muttafaq Alaih)
Setelah dakwah tauhid ini berjalan dengan benar secara otomatis dakwah-dakwah yang lain akan mengalir dengan sendirinya tanpa kita bisa mencegahnya. Sekali kita mempercayainya dan sekali mendapatkan hidayah maka tiada satupun yang dapat mencegah atau mengubahnya.
Kafir Qurays menawari Rasulullah dengan kekuasaan, harta, wanita dan materi dunia yang lain agar rasul meninggalkan dakwah Tauhid ini. Rasul menolak tawaran tersebut dan terus menggencarkan aktivitas dakwahnya walau menanggung beragam ujian dan cobaan. Hingga berlalu 13 tahun dan setelah itu mekah ditakhlukkan, dihancurkan berhala yang disembah oleh orang kafir Quraisy. Firman ALLAH yang artinya : "Telah datang kebenaran dan hancur kebatilan sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur " (QS Al Isra').

Mudah-mudahan dengan kalimat tauhid ini kita memulai, mengisi dan mengakhiri kehidupan kita di dunia yang fana ini.